KESIMPULAN
CGP memiliki peran penting dalam menciptakan budaya positif di sekolah yaitu dengan cara menerapkan disipin positif. Disiplin positif merupakan sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung. murid yang memiliki disiplin positif memiliki motivasi internal dalam melakukan segala sesuatu sehingga memiliki dampak jangka panjang yang bagus dalam penguatan karakter murid. Penerapan budaya positif tidak bisa lepas dari konsep motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan). Setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang memiliki tujuan , jika seseorang melakukan sesuatu karena mengharapkan penghargaan dan menghindari tujuan maka orang tersebut belum dapat dikatakan memiliki budaya positif. Sebagai contoh seorang murid yang datang tepat waktu karena menghindari hukuman, dalam jangka pendek hukuman seakan-akan dapat mengontrol murid bersikap patuh terhadap aturan namun perilaku patuh tersebut bukan karena kesadaran dari dalam dirinya. Akibatnya sangat mungkin jika nanti ketika sudah tidak dalam lembaga sekolah lagi murid akan berperilaku sesuai kehendaknya. Manusia hanya bisa di kontrol oleh dirinya sendiri, jika orang lain terlihat mengontrol maka itu adalah hanya kontrol semu. Dalam kontrol restitusi yang memegang kontrol adalah diri sendiri. orang lain dalam hal ini guru hanya sebagai manager yang menawarkan dan memfasilitasi murid untuk dapat mengelola dirinya sendiri. Seseorang (murid) memiliki tujuan dalam setiap melakukan tindakan untuk itu perlu ada keyakinan sekolah atau kelas yang mendorong murid melakukan sesuatu karena dorongan instrinsik. Keyakinan sekolah atau kelas biasanya diambil dari nilai-nilai universal. Nilai-nilai tersebut akan diyakini oleh murid sebagai pegangan hidupnya dan jika guru mampu menempatkan diri sebagai manajer maka murid akan menerapkan disiplin positif pada dirinya, jika sebagian besar murid mampu menerapkan disiplin positif maka akan tercipta budaya positif di sekolah.
Keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu
Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak. adalah :
Kaitan Budaya Positif dengan Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Budaya positif sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dalam Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dijelaskan mengenai pendidikan yang menuntun sesuai dengan kodrat anak. Dalam proses menuntun tersebut tentunya membutuhkan ekosistem pendidikan yang menerapkan budaya positif.
Kaitan Budaya Positif dengan Peran dan Nilai Guru Penggerak adalah
Pemahaman
tentang budaya positif akan mendukung peran dan nilai guru penggerak dalam
proses pembelajaran yang dilakukan. Guru harus senantiasa menerapkan konsep
inti budaya positif dalam mengaktualisasikan nilai dan peran yang
dimilikinya.
Kaitan Budaya
Positif dengan Visi Guru Penggerak
Dalam rangka mewujudkan visinya, seorang guru penggerak harus menerapkan
budaya positif dalam prosesnya. Visi guru yang luar biasa akan mudah tercapai
jika dirinya dan lingkungan pembelajarannya sudah menerapkan budaya
positif.
REFLEKSI
1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin
positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol
guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah
hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Disiplin Positif lahir karena motivasi internal hal ini berkaitan dengan nilai-nilai universal yang diyakininya. Disiplin positif adalah pendekatan untuk menuntun kodrat anak agar berdaya dalam mengontrol diri dan menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu nilai-nilai kebajikan. seseorang yang memiliki disiplin positif akan dapat mengontrol dirinya sendiri . Dalam Teori Kontrol dijelaskan bahwa yang bisa mengontrol seseorang adalah dirinya sendiri. Seseorang akan melakukan sesuatu atau tidak tergantung dari dalam diri orang tersebut sesuai dengan motivasi pemenuhan dasar yang dimilikinya. Dalam teori motivasi dinyatakan Perilaku yang ditunjukkan manusia pasti memiliki motivasi dan tujuan. Motivasi dibagi menjadi dua, yakni motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal adalah motivasi yang diinginkan oleh seseorang dalam rangka menghargai diri dnegan nilai yang diyakininya. Sementara itu, motivasi eksternal di antaranya adalah keinginan yang dilakukan dalam rangka menghindari ketidaknyamanan/hukuman atau ingin mendapatkan imbalan/penghargaan. Hukuman dan Penghargaan adalah salah satu cara mengontrol perilaku murid yang secara tidak langsung menghambat potensinya. Dalam jangka waktu tertentu, baik hukuman dan penghargaan. hukuman dan penghargaan memberikan dampak patuh dalam jangka pendek, tidak dalam jangka panjang karena tidak didorong dari dalam diri
Ada lima Posisi Kontrol Guru yaitu : 1. Sebagai penghukum, 2. Sebagai pembuat rasa bersalah, 3. Sebagai pemantau, 4. sebagai teman 5. Sebagai manajer . Posisi yang positif adalah sebagai teman dan manajer namun posisi manajer adalah posisi yang terbaik. meskipun demikian guru bisa saja memposisikan diri sebagai pemantau jika murid tidak dapat diajak kerja sama. Sebagai seorang manajer guru harus memahami kebutuhan dasar manusia sehingga mampu menawarkan solusi sesuai kebutuhan murid. Lima kebutuhan dasar tersebut adalah Kebutuhan bertahan hidup, Kasih sayang dan rasa memiliki, Kebebasan, Kesenangan, Penguasaan. Kebutuhan dasar manusia termasuk murid kita harus dipenuhi jika tidak murid akan berusaha memenuhi meskipun dengan cara yang salah . Misalnya ketika pelajaran murid bermain game, mungkin dia sedang memenuhi kebutuhan kesenangannya karena pelajaran tidak menyenangkan .
Seorang guru yang mengambil posisi manajer harus sudah memiliki keyakinan kelas bersama murid-muridnya. Keyakinan kelas adalah nilai-nilai kebajikan yang diyakini oleh warga kelas untuk menumbuhkan motivasi internal dan budaya positif di kelas. Ketika ada suatu permasalahan dengan murid guru bisa menerapkan Segitiga Restitusi Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka,sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Segitiga Restitusi adalah alur untuk menegakkan keyakinan bersama di dalam kelas atau sekolah. Ada tiga unsur segitiga restitusi, yakni:
1) Menstabilkan
identitas
2) Validasi
tindakan yang salah
3) Menanyakan
keyakinan
Hal yang menarik di luar dugaan
Ada banyak hal yang menarik dan di luar dugaan yang saya temukan di modul. Hal ini membuat saya optimis dan bersemangat dengan adanya perubahan. Hal-hal tersebut diantaranya :
1. Makna disiplin yang ternyata tidak hanya fokus pada patuh terhadap aturan tapi lebih pada kesadaran internal karena keyakinan nilai universal
2. Ada lima posisi kontrol guru dalam menangani siswa yang bermasalah. Saat ini saya lebih banyak di posisi guru sebagai teman Ke depannya saya akan selalu berusaha untuk menempatkan diri di posisi guru sebagai manajer.
3. Segitiga restitusi adalah hal baru bagi saya dan saya menyukai konsep tersebut
4. Saya merasa bersemangat dan optimis dengan setiap materi yang disajikan di modul
5. Perbedaan hukuman dan konsekuensi
6. teori kebutuhan manusia
7. keyakinan kelas dan kesepakatan kelas
8. langkah-langkah melakukan restitusi
2. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Paradigma saya berubah tentang hukuman , selama ini saya merasa tidak tega menghukum anak dan saya merasa saya salah karena tidak tegas tetapi setelah membaca modul ini hukumanpun juga tidak baik dalam jangka panjang. Ada cara yang lebih baik dari pada menghukum yaitu melakukan restitusi.
Saya merasa menjadi teman bagi mereka sudah cukup tapi ternyata hanya efektif dalam jangka pendek.
Saya tidak tahu harus memulai dari mana untuk menciptakan budaya positif , sekarang saya memiliki gambaran dan optimis dapat melakukan perubahan meskipun secara perlahan-lahan
3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
Pengalaman saya adalah menangani permasalahan siswa dengan konsep sebagai teman sehingga kurang berdampak positif secara mendalam pada karakter murid. saya juga pernah membuat kesepakatan kelas namun belum pernah membuat keyakinan kelas
4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami
hal-hal tersebut?
Perasaan saya ketika menangani murid bingung seperti apa penyelesaian yang terbaik, kasihan pada murid kemudian netral karena sudah memaafkan
5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam
penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang
perlu diperbaiki?
Konsep-konsep yang saya terapkan masih banyak kekurangan meskipun saya sudah berusaha berempati. (berusaha empati adalah hal baik) . perlu banyak perbaikan misalnya saja pada pembuatan keyakinan kelas, saya belum pernah membuat keyakinan kelas. Saya berencana untuk membuat keyakinan kelas pada kelas x pada awal masuk ajaran baru. Saya berencana mempraktekkan tentang keyakinan kelas ini dan membuat poster-poster kelas. Saya juga berencana berbagi pengalaman tentang praktik baik yang sudah saya lakukan pada komunitas dan teman sejawat.
6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika
berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang
paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah
mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan
Anda sekarang? Apa perbedaannya?
Sebelumnya saya menggunakan posisi teman, perasaan saya netral ketika sudah memaafkannya. Setelah mempelajari modul posisi saya manajer perasaan saya optimis. Perbedaannya anak merasa lebih terbantu menyelesaikan masalahnya dengan perasaan lega (setelah saya wawancara murid). Murid lebih optimis dan berusaha memperbaiki perilakunya. murid belajar untuk manajemen diri
7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah
Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda?
Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
Pernah, pada tahap memvalidasi kesalahan tetapi setelah itu tidak ada tahap selanjutnya hanya menasehati untuk tidak mengulangi saja. saya melakukannya dengan raut muka datar tanpa marah dan berusaha untuk memaafkan murid saya
8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam
modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam
proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Ada, misalnya ajaran-ajaran agama yang menguatkan nilai-nilai murid sebagai upaya lebih menguatkan motivasi internal. Ilmu psikologi pendidikan yang membantu guru untuk memahami perilaku murid. Ilmu filsafat untuk belajar berfikir
.jpg)





