ANALISIS WACANA MAHASISWA UNESA, AKTIVIS HIZBUT TAHRIR INDONESIA, TERHADAP IDEOLOGI PANCASILA
Erni Nurdianti
ABSTRAK
Persoalan Ideologi di Indonesia ternyata belum berakhir. Hal ini terbukti dari pernyataan beberapa kelompok masyarakat yang menyatakan menolak Pancasila sebagai Ideologi bangsa Indonesia. Salah satu kelompok yang terang-terangan menyatakan demikian adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebagai organisasi politik, HTI dengan mudah mewacanakan idenya pada masyarakat khususnya masyarakat kampus termasuk mahasiswa UNESA. Sebagai mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah Pancasila asumsinya adalah mereka mendukung Pancasila. Bertolak belakang dari asumsi tersebut, ternyata mahasiswa UNESA aktivis HTI justru menolak seperti yang dilakukan oleh organisasi yang diikutinya. Penolakan terhadap Pancasila tersebut tentu dilatarbelakangi oleh pengetahuan/wacana yang dimiliki mahasiswa tersebut. Bertolak dari latar belakang tersebut maka peneliti menarik rumusan masalah “Bagaimana wacana mahasiswa UNESA aktivis HTI terhadap Ideologi Pancasila ?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis diskursus/wacana agar mendapatkan hasil yang mendalam dan mengungkap wacana mahasiswa tersebut. Hasil dari penelitian ini ternyata cukup mencengangkan karena diperoleh fakta bahwa mereka menilai komponen-komponen yang ada dalam Pancasila misalnya Demokrasi, Pluralisme, HAM, dan Nasionalisme merupakan ide kufur dari barat dan bertentangan dengan Islam. Mereka menilai bahwa seluruh permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh ketidakjelasan Ideologi yang dipakai di Indonesia, yaitu Pancasila. Permasalahan yang sangat nampak adalah ekonomi dan moral. Menurut mereka solusinya hanya ada satu yaitu menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam naungan daulah khilafah Islamiah.
Perlawanan ideologi yang dilakukan oleh mahasiswa UNESA anggota HTI tersebut disebabkan oleh pengetahuan yang pada akhirnya menghasilkan wacana berbeda dari ideologi dominan yaitu Pancasila. Pengetahuan tersebut diperoleh dari organisasi HTI yang saat ini menguasai mereka secara moral dan intelektual. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah belum menguasai sejumlah kelompok khususnya HTI untuk menanamkan hegemoninya. Akibatnya sejumlah kelompok mencari kuasa ideologi alternatif yang mereka nilai memiliki arah yang lebih baik.
Simpulan penelitian bahwa Mahasiawa UNESA anggota HTI kehilangan kepercayaannya terhadap Pancasila bahkan menganggap bahwa Pancasila bukan sebuah Ideologi dikarenakan wacana mereka telah dihegemoni oleh HTI. Mereka menilai ide-ide yang ada dalam Pancasila merupakan kufur dan bertentangan dengan Islam sehingga tidak perlu dipakai.
hmm..... ok juga buk!!! gi ngapo???
BalasHapusBtw swkarang dah kerja dimana????
you did
salam budaya
kamu pro islam ato pancasila?
BalasHapusyou did aku ngajar di smp fatahilah, di kediri !!
BalasHapusaku pro Islam....tapi di Indonesia kayaknya tidak mungkin. so Islam for diriku dan orang-orang disekitarku saja.. tidak perlu memaksakan masuk dalam struktur pemerintahan
BalasHapusSifat Islam adalah rahmatan lil alamin, jadi tidak mungkin jika Islam diterapkan secara benar akan menindas kelompok minoritas. Allah memerintahkan agar kita bersikap adil terhadap manusia. Justeru keburukan – keburukan yang terjadi saat ini adalah akibat dari ditinggalkannya penerapan Syariat Islam secara praktis. Tanpa menerapkan Hudud, kemaksiatan begitu leluasa terjadi, keamanan menjadi sesuatu yang mahal. Tanpa menerapkan pendidikan Islam banyak saudara-saudara kita yang masih awam terhadap Islam, sehingga bisa jadi sasaran empuk gerakan pemurtadan.
BalasHapus-
Pemerintahan Islam, memberikan perhatian yang besar terhadap kaum Non Muslim. Khalifah Umar bin Khaththab, jika mengadakan pertemuan dengan para pejabat-pejabatnya, beliau menanyakan keadaan Non Muslim yang berada dalam wilayah Khilafahnya. Beliau menanyakan bagaimana keadaan Ahludz-Dzimmah [Non Muslim]? Apakah umat Muslim menyakiti mereka? Kemudian pejabat-pejabatnya selalu memberitahukan bahwa keadaan mereka baik, dan umat Muslim tidak menyakiti mereka.
-
Pada saat di Eropa terjadi gerakan sentimen anti Yahudi, Umat Yahudi berbondong-bondong mencari perlindungan ke daerah Khilafah. Khalifah dari bani Utsmani saat itu bersdia memberikan perlindungan dan daerah untuk mereka jadikan tempat tinggal pada kaum Yahudi. Perlakuan manis pemerintahan Islam ini amat berbeda dengan perlakuan Negara Pancasila ini, ketika terjadi perang Iraq-Amerika, pengungsi Iraq yang datang ke Indonesia malah di deportasi kembali ke negaranya.
-
Ketika di Amerika terjadi perang sipil, Khilafah memberikan bantuan kemanusiaan pada rakyat Amerika. Mengetahui hal itu, Presiden Amerika mengirim surat ucapan terimakasih pada Khalifah.
-
Nah saudaraku, adakah negara yang paling peduli dengan nasib Non Muslim, selain Khilafah?